Deretan Tokoh yang Kontra dengan Fenomena Ngemis Online, Artis hingga Menteri
Lutfi Agizal merupakan aktor serta model Tanah Air. Diketahui, Lutfi mengajukan laporan ke Kementerian Komunikasi Telekomunikasi dan Informatika (Kemkominfo) terkait aksi ngemis online. Ia berkata, bahwa ngemis online melalui Tiktok ini hampir mirip dengan aksi pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mengontak para aktor atau influencer melalui direct message di Instagram, seperti minta uang, kebutuhan rumah tangga atau kebutuhan anak, dan lain-lain. Ia juga berkata bahwa konsep dari ngemis online ini mirip dengan dark web dan dapat membahayakan diri. Lutfi meminta adanya perubahan UU ITE terkait ngemis online, karena generasi muda di Indonesia harus terselamatkan dengan perlindungan dari undang-undang ini.
3. Uus - Pelawak
Pelawak yang memiliki nama asli Rizky Firdaus Wijaksana, atau yang lebih dikenal dengan nama Uus, juga ikut mengomentari kejadian ngemis online. Uus tidak segan-segan mengatakan bahwa dirinya kesal dengan keberadaan ngemis online dengan cara mempertontonkan orang mandi lumpur. Terutama, menurut Uus, orang yang melakukan aksi mandi lumpur dan lain sebagainya itu adalah ibu-ibu yang telah berusia lanjut. Terdapat salah satu oknum pelaku ngemis online di Tiktok, yang menolak tawaran kerja dari seseorang dan malah memilih untuk melakukan live streaming dengan menyuruh ibunya untuk mengguyur diri. Oknum tersebut juga berkata jika ingin melihat ibunya berhenti, maka harus diberi uang sebesar Rp200 juta. Perbuatan ngemis online seperti itu, bagi Uus, terlihat seperti menyiksa orang tua dan tidak mempedulikan bahwa surga berada di kaki ibu.
4. Hairus Salim HS – Lakpesdam DIY
Hairus Salim, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan bahwa ngemis online hanya dilakukan oleh orang yang pragmatis dan berpikir instan. Hal ini terlihat jelas, karena aksi ngemis online ditonton oleh ratusan hingga ribuan orang, kemudian pelaku secara instan mendapat donasi dari orang-orang yang merasa iba saat menontonnya. Menurut Hairus, konten seperti itu merupakan salah satu bentuk eksploitasi kemiskinan. Ia juga menilai bahwa mungkin orang yang mengemis online tidak memiliki kreativitas dan inovasi.