Dia pun menyayangkan hal itu, padahal petugas keamanan bisa melepaskan anjing pelacak untuk menghalau massa, tapi itu tidak dilakukan.
Justru ketika massa kian banyak yang masuk lapangan karena sudah emosional akibat tindakan aparat keamanan, semprotan gas air mata ditembakkan ke arah tribun penonton.
Alhasil Aremania mencoba masuk lapangan untuk menyelamatkan diri karena beberapa pintu keluar dalam keadaan tertutup.
"Seharusnya cukup anjing - anjing dilepaskan bubar, lari ke lapangan untuk menyelamatkan. Lari ke tengah lapangan untuk menyelamatkan diri, tembakan kedua ke arah tribun, tembakan ketiga kedua jaraknya dekat," tuturnya.
Hal serupa dirasakan Yoga Kumud Aremania Kampus UIN Malang yang menyebut, Aremania tidak menyerang pemain saat memasuki lapangan. Apalagi saat itu, pemain lawan Persebaya sudah masuk ke luar lapangan.