Senior Manager Pemeliharaan Unit Induk Jawa Bali Tejo Wihardiono mengatakan, belum dapat memastikan penyebab robohnya menara SUTT. Hanya saja, pada menara 56 yang jaraknya sekitar 800 meter dari lokasi, ditemukan ada fenomena tanah bergerak. Bukan hanya pada tapak pondasi menara, namun juga di tanah sekitarnya.
“Kami indikasikan dan analisis yang terjadi di sini sama dengan dengan di lokasi menara 56 akibat tanah bergerak. Namun kami masih akan lakukan studi dengan teman-teman konsultan maupun akademisi untuk mengetahui penyebab pastinya,” kata Tejo.
Kendati roboh, namun dia pastikan hal ini tidak menimbulkan gangguan kelistrikan bagi konsumen.
“Tidak ada yang padam karena listrik kita sekarang sudah interkoneksi Jawa-Bali. Jadi jika di sini ada kekurangan, maka akan dipasok dari daerah lain,” katanya.
Akibat robohnya menara SUTT ini, sedikitnya aliran listrik 600 mega watt (MW) dari PLTU Sudimoro Pacitan terputus. Untuk perbaikan, PLN berencana memasang tower emergency yang diperkirakan membutuhkan waktu 5-10 hari.
Editor: Donald Karouw