Sejarah Gedung Grahadi: dari Rumah Kebun 1795 hingga Terbakar dalam Kerusuhan 2025
Gedung Grahadi dibangun dengan gaya arsitektur neo-klasik Perancis yang kemudian bertransformasi menjadi gaya Hindia Belanda khas kolonial dengan dominasi batu bata merah dan kolom megah. Renovasi penting dilakukan pada masa pemerintahan Herman William Daendels yang menginginkan tampilan gedung lebih megah dan anggun, menjadikannya simbol kemewahan dan kekuasaan kolonial masa itu.
Gedung ini pernah menjadi rumah dinas berbagai pejabat tinggi kolonial, termasuk penguasa Belanda dan pejabat Jepang selama masa pendudukan, sebelum beralih fungsi menjadi rumah dinas gubernur setelah Indonesia merdeka. Selain sebagai pusat pemerintahan, gedung ini juga merupakan cagar budaya yang dilindungi karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang khas, termasuk taman dan kolam yang terhubung dengan parit mengelilingi bangunan, menyatu dengan Sungai Kalimas.
Namun, peristiwa kebakaran pada malam 30 Agustus 2025 membawa luka mendalam bagi masyarakat Surabaya dan Jawa Timur. Pembakaran yang diduga akibat aksi anarkis massa ini membakar sebagian besar ruang penting di sisi barat gedung, termasuk ruang kerja Wakil Gubernur Emil Dardak.
Selain kerusakan fisik yang parah, peristiwa tersebut juga memicu keprihatinan besar atas perlindungan cagar budaya di Indonesia. Gedung Grahadi, yang telah menjadi saksi bisu perjuangan sejarah dan simbol pemerintahan daerah, kini menghadapi risiko kehilangan sebagian dari keaslian dan kemegahannya.
Kerusakan yang terjadi sangat disayangkan karena gedung ini lebih dari sekadar bangunan; ia adalah bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Jawa Timur.