Satgas Pangan Pastikan Tak Ada Kelangkaan Gula Rafinasi di Jatim
Selain itu pihaknya juga menemukan 9.642 ton gula kristal rafinasi (GKR) untuk kuota ekspor, kemudian ada 25 ton gula kristal putih milik PT Sugar Lapinta. Namun saat ini gula tersebut sudah dikirim menuju ke Gianyar Bali.
"Semua dokumen dan surat jalan lengkap. Untuk itu, Satgas Pangan Polda Jatim akan terus memantau ketersediaan, peredaran gula Rafinasi di wilayah hukum Polda Jatim," katanya.
Ketua Asosiasi Pesantren Entrepreneur Indonesia (APEI), Muhammad Zakki dalam rapat virtual juga menyampaikan hal serupa, bahwa Gula rafinasi itu tidak langka di Jawa Timur. Hanya saja gula itu harus diambil dari luar daerah sehingga berdampak biaya yang tunggi.
"Sebenarnya ini bukan masalah kelangkaan hanya saja yang dipermasalahkan adalah biaya transportasi pengangkutan GKR dari luar Jatim yang membebani pelaku usaha industri dan UMKM. Jawa Timur juga mendapat alokasi distribusi Gula Kristal rafinasi paling banyak kedua setelah Jawa Barat namun masih belum memiliki Pabrik gula yang bisa memproduksi GKR," katanya.
Mujammad Zakki juga mengatakan, kondisi ini terjadi karena terbitnya Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 3 tahun 2021 tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Industri Gula dalam rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional. Aturan ini membuat pabrik gula di Jatim, seperti PT Kebun Tebu Mas (KTM) tak lagi mendapat pasokan impor raw sugar sehingga tak bisa memasok gula rafinasi ke pelaku industri.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan memastikan tidak ada kelangkaan gula rafinasi di Jawa Timur. AGRI menyediakan stok GKR di gudang Jawa Timur. Untuk membantu UKM, AGRI menawarkan harga jual yang sama di Jatim seperti harga jual di pabrik anggota AGRI.
Editor: Ihya Ulumuddin