Selain itu ketika pulang, Imam juga tampak jarang bersosialisasi. Dia lebih sering mengurung diri di dalam rumah saja. Namun pihak keluarga tak ambil pusing, karena sifat pemuda tersebut memang pemalu, jadi tidak ada yang aneh dengannya.
Belum lagi, istrinya tiba-tiba memakai cadar. Di satu sisi, kata dia, pihak keluarga menilai wajar, bahkan salut dengan keinginan istri Imam.
"Kami menganggapnya itu bagus. Tapi memang sebelumnya tidak pakai cadar, satu tahun terakhir ini saja dia berubah cara berpakaiannya," katanya.
Ibrahim dan keluarga kaget ternyata keponakannya itu berani berbuat teror. Dia tak tahu banyak mengenai keseharian Imam dan keluarganya selama berada di Surabaya, apalagi dia juga membawa anaknya ikut bersamanya ke kota tersebut.
"Anaknya juga dibawa ke Surabaya. Katanya tidak mau membebani orang tua," katanya.
Editor: Andi Mohammad Ikhbal