Mengenal Masjid Bungkuk Singosari, Tonggak Penyebaran Islam Pertama di Malang Raya
Mereka disebut KH Moensif lantas melabeli daerah tempat KH Hamimmuddin mengajarkan agama Islam sebagai istilah bungkuk. Dari situ awal muka bungkuk dikenal dan kian mendatangkan banyak santri-santri dari berbagai kalangan yang tinggal di Singosari.
"Merasa santri makin lama makin banyak mulailah dibangun gedung masjid yang lebih luas. Kalau awalnya berupa gubuk saja, dari bambu, dari daun-daun, kemudian sudah nggak bisa nampung lagi. Dipikirlah sebuah bangunan yang lebih semi permanen, sudah ada bata, ada kayu, ada genteng, karena sudah dimulai genteng itu maka harus ada penyangga kuda-kuda dan ada tiang itu zamannya kiai Hamimuddin, ketika santri sudah mulai makin lama makin banyak," katanya.
Empat tiang itu dibangun era KH Hamimuddin di sekitar abad 18, tiang yang merupakan cikal bakal Masjid Bungkuk tetap dipertahankan hingga kini. Namun seiring waktu akhirnya KH Hamimuddin yang memiliki tujuh orang anak menyerahkan pengelolaan pondok pesantren dan masjidnya kepada menantunya KH Thohir dari anak pertamanya bernama Siti Murtasiah.
Sosok KH Thohir sendiri disebut berasal dari Cangaaan, Bangil. Dia satu angkatan dengan ulama asal Madura Syaikhona Kholil. Kharismanya begitu besar membuat santri-santri kian berdatangan dari berbagai daerah ke daerah Bungkuk. Oleh karena kharismanya dan beliau merupakan salah satu waliullah yang memiliki karomah luar biasa.
"Santri makin lama semakin banyak santri hingga akhirnya masjid itu dinamakan Masjid At Thohiriyah, yang diambil namanya KH Thohir," tuturnya.