Kisah Sastrawan Besar Indonesia Iwan Simatupang yang Meninggal Dunia secara Tragis
Korespondensinya dengan sastrawan Yogyakarta, Bambang Soelarto (Penulis naskah drama Domba-domba Revolusi) terkumpul menjadi surat politik dan oleh penerbit lalu diberi judul: Surat-surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966.
Iwan mulai menggauli dunia sastra pada umur 20 tahun. Dia jebolan HBS Medan, yang pernah menjadi komandan pasukan TRIP di Sumatera Utara (1949). Iwan Simatupang memulai menulis pada awal tahun 1950-an. Dia bahkan pernah mengajar sastra di sebuah SMA di Surabaya (1950-1953).
Di lingkungan sekolah akrab dipanggil Pak guru Iwan. Di saat yang sama dia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedoteran di Surabaya. "Kala itu dia tengah belajar di Fakultas Kedokteran, Sekolah Kedokteran Surabaya," tulis Kurnia JR.
Dalam kumpulan esai Iwan Simatupang “Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air”, menyebut Iwan Simatupang mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair Surabaya. Sayangnya dia hanya kuliah sampai tahun 1953 dan tidak tamat.
Sekitar tahun 1954-1959, Iwan memperoleh bea siswa ke Eropa dari Sticusa (Stichting Culturele Samenwerking) atau Yayasan kerjasama Indonesia-Belanda. Di Paris, Iwan menekuni filsafat. Di Leiden Belanda, dia belajar drama.