Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kisah Prabu Surawisesa, Putra Prabu Siliwangi yang Gagal Pertahankan Kejayaan Pajajaran
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Pecahnya Kerajaan Tarumanagara hingga Perbedaan Tradisi Sunda dan Galuh

Senin, 01 Agustus 2022 - 05:42:00 WIB
Kisah Pecahnya Kerajaan Tarumanagara hingga Perbedaan Tradisi Sunda dan Galuh
Ilustrasi Kerajaan Tarumanagara yang membuat perbedaan tradisi Sunda dan Galuh. (Foto : Ist)
Advertisement . Scroll to see content

Sebaliknya orang Kanekes, masih menyimpan banyak sekali sisa-sisa tradisi Sunda, mengubur mayat dalam tanah. Tradisi nerebkeun di sebelah timur dan tradisi ngurebkeun di sebelah barat membekas dalam peristiwa dalam istilah panereban dan pasarean. 

Peristiwa sejarah telah meleburkan kedua kelompok sub-etnik ini menjadi satu orang air dengan orang gunung, menjadi akrab dan berbaur seperti dilambangkan oleh dongeng "sakadang kuya jeung sakadang monyet". Dongeng khas Sunda ini sangat mendalam dan meluas dalam segala lapisan masyarakat. 

Padahal mereka tahu dalam kenyataan sehari-hari monyet dengan kuya itu bertemu saja mungkin tidak pernah. Bahkan di kebun binatang pun tidak pernah diperkenalkan.

Pada abad ke-14, sebutan Sunda sudah meliputi seluruh Jawa Barat. Baik dalam pengertian wilayah maupun etnik. 

Menurut Pustaka Paratwan I Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, nama Sunda mulai digunakan Purnawarman untuk ibu kota Tarumanagara yang baru didirikannya, Sundapura. Idealisme kenegaraan memang terpaut di dalamnya sebab Sundapura berarti kota suci atau kota murni, sedangkan Galuh berarti permata atau batu mulia dan secara kiasan berarti gadis. 

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut