Masih lekat dalam ingatan perempuan berumur 51 tahun ini tatkala ia dan anggota keluarganya panik mencari tempat berlindung. Awan yang gelap membuatnya semakin kalut.
Kisah Pilu Tukiran, Kehilangan Anak saat Erupsi Gunung Semeru
Dalam situasi yang serba ketakutan itu, ia diseret sang suami untuk berlindung di salah satu bangunan musala yang tak jauh dari rumahnya.
Misni sempat kehilangan harapan lantaran di dalam musala itu sudah ada puluhan kepala keluarga yang sudah lebih awal berlindung. Praktis, ia harus sedikit memaksa untuk masuk dan berharap kondisinya lebih aman dibanding berada di dalam rumahnya sendiri. "Saya yakin akan lebih aman di musala," tutur Misni.
Pilihan untuk berlindung di dalam musala, juga bukan datang serta-merta. Beberapa saudaranya juga sempat mengajak dirinya untuk berlindung di tempat yang rutin ia sambangi saat beribadah itu. Lantaran itulah ia merasa lebih aman. "Paling kalau mati, ya ada saudara-saudara juga di situ (musala)," begitu Misni menceritakan sedikit kepasrahannya saat itu.
Beberapa jam, Misni dan sekitar 50 orang di dalam musala itu menunggu nasib. Sementara di luar musala, mereka melihat dengan jelas bagaimana lahar panas yang bercampur air hujan datang seperti air bah. Suara gemuruh membuat mereka bertambah takut. "Kami terus berdoa, baca al fatihah dan yang laki-laki mendengungkan adzan," ucapnya.