Kisah Jayabaya Bawa Kerajaan Kediri ke Puncak Kejayaan, Kuasai Pulau Jawa hingga Papua
Kemudian ada wilayah Ta Kang (Sumba), Huang Ma Chu (Papua), Ma Li (Bali), Kulun (Gurun, mungkin Gorong atau Sorong di Papua Barat atau Nusa Tenggara), Tan Jung Wu Lo (Tanjungpura di Borneo), Ti Wu (Timor), Pingya I (Banggai di Sulawesi) dan Wu Nu Ku (Maluku).
Kondisi masyarakat Kediri saat diperintah Sri Jayabaya sudah teratur. Penduduknya telah memakai kain sampai di bawah lutut, rambut diurai serta rumahnya bersih dan rapi. Dalam perkawinan, keluarga pengantin perempuan menerima mas kawin berupa emas. Orang-orang yang sakit memohon kesembuhan kepada dewa dan Buddha.
Dalam kitab Lubdaka dikisahkan kehidupan sosial masyarakat kerajaan Kediri sangat teratur. Di dalam kitab ini dituliskan tinggi rendahnya martabat seseorang bukan berdasarkan pangkat dan harta benda saja, namun berdasarkan moral dan tingkah lakunya.
Di sini raja sangat menghargai dan menghormati hak-hak rakyatnya sehingga rakyatnya bisa leluasa menjalankan aktivitas kehidupan mereka sehari-hari.
Pada Prasasti Talan juga dituliskan, raja sangat menghormati hak-hak rakyatnya. Raja membebaskan rakyat Desa Talan dari pajak karena telah mengabdi untuk kepentingan Kediri. Selain itu pada Prasasti Ngantang juga dituliskan raja memberikan hadiah berupa tanah yang pajaknya dibebaskan Raja Jayabaya.