Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Remaja di Situbondo Dihajar Oknum Prajurit TNI Pakai Selang, Diduga Masalah Cinta
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Asmara Penyair Chairil Anwar dengan Gadis Asal Jatim, Kandas gegara Pekerjaan 

Kamis, 14 Juli 2022 - 18:47:00 WIB
Kisah Asmara Penyair Chairil Anwar dengan Gadis Asal Jatim, Kandas gegara Pekerjaan 
Chairil Anwar (foto: repro/ist dari Dolf Verspoor).
Advertisement . Scroll to see content

Di rumah Mirat yang berada di Kebon Sirih Jakarta, Chairil kerap bertandang. Mirat yang selalu ingin mendalami karya Chairil Anwar, tidak pernah alpa membincang karya-karya sang kekasih. 

Saat Mirat pulang kampung ke Paron, Jawa Timur, Chairil Anwar menyusul, dan sempat tinggal beberapa hari. Di suatu malam, saat seluruh keluarga besar Mirat berkumpul, ayah Mirat menanyai Chairil.

“Masih akan berapa lama lagi kau di sini Nak?”

“Saya masih senang di sini”

“Apa kau tidak bersekolah lagi?”

“Ada sekolah apa rupanya di jaman edan seperti sekarang ini?”

“Atau bekerja, barangkali?”

“Bekerja? Ya, tiap hari, tiap detik saya bekerja”

“Di mana?”

“Di mana-mana!”

“Yang tetap?”

Ditanya soal pekerjaan tetap, Chairil Anwar diam sejenak. Lalu dia menjawab bahwa gambaran kerja yang rutin masuk di pagi hari dan pulang siang hari, baginya pekerjaan yang tidak perlu dia lakukan.

“Ah, kerja yang itu tak usahlah!,” kata Chairil

“Kenapa tak usahlah? Semua orang bekerja semacam itu!”.

Chairil Anwar beralasan semua orang bekerja semacam itu. Kakeknya, bapaknya dan bahkan ayah Mirat juga disebutnya bekerja semacam itu. Karenanya Chairil berpendapat dirinya tak perlu melakukan hal yang sama.

“Kenapa tidak perlu?Memangnya apa, siapa anakda ini?,” kata ayah Mirat kembali.

“Karena sekali berarti, sesudah itu mati. Karena gambaran hidup seorang seniman adalah hidup yang melepas bebas!.

Chairil Anwar menoleh kepada Mirat yang duduk terpisah dari orang tua dan kakak-kakanya. Kepala gadis tambatan hatinya itu tertunduk. Chairil pun melanjutkan ucapannya yang langsung ditujukan kepada Mirat.

Chairil mengatakan dirinya dan Mirat merupakan anak dari sebuah zaman yang beda. Dan setiap seniman, kata Chairil sesungguhnya ditakdirkan harus seorang perintis jalan. “Kita tidak boleh lagi cuma jadi alat musik penghidupan seperti orang-orang tua kita. Kita pemain dari lagu penghidupan,” ucap Chairil.

Wajah orang tua dan saudara Mirat sontak tegang. Ucapan Chairil yang menyerupai orasi kebudayaan itu, tak bisa diterima. Kakak Mirat yang menjadi jaksa di Jakarta dikabari melalui sepucuk surat yang seketika itu turut naik pitam.

Ayah Mirat bersiteguh akan merestui hubungan Chairil dengan putrinya, asal penyair itu memiliki pekerjaan tetap. Chairil yang tak punya uang sepeserpun kembali ke Jakarta dengan uang saku dari ayah Mirat. Kopor berisi buku-buku dan berkas tulisan ditinggalnya. Chairil tidak pernah kembali lagi ke Paron, Jawa Timur.    

Cinta Chairil Anwar kepada Mirat begitu dalam. Saking membekasnya, untuk mengenang kisah asmaranya dengan Mirat, pada tahun 1949 Chairil membuat puisi berjudul : Mirat Muda, Chairil Muda dengan tambahan judul Di pegunungan 1943.

Kendati demikian, dalam perjalanan hidupnya, Chairil Anwar yang berjiwa bebas merdeka juga pernah jatuh hati dengan Karinah Moorjono, Dien Tamaela, Gadis Rasjid, Sri Ayati, Tuti Artic dan Ida Nasution. Namun ia menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada 6 September 1946 dan dikarunia seorang putri bernama Evawani.

Chairil yang pernah mengungkapkan dalam puisinya, ingin hidup seribu tahun lagi dan kalau berumur panjang akan menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, akhirnya takluk oleh penyakit paru-paru yang diderita. 

Pada 28 April 1949, di usia yang masih 27 tahun itu, Chairil Anwar wafat. Penyair legendaris Indonesia itu dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta.

Editor: Ihya Ulumuddin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut