Jatuh ke Pelukan Raden Ayu, Pangeran Diponegoro Akhiri Perjodohan Tanpa Cinta dengan Janda
Selanjutnya, upacara pernikahan pun digelar, mengambil tempat di keraton, pesta besar-besaran dilakukan. Dikisahkan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk digelar pula di Tegalrejo, tempat tinggal Pangeran Diponegoro di hari berikutnya.
Pernikahan Pangeran Diponegoro dengan putri Ratu Maduretno juga memberi keuntungan bagi Diponegoro. Sebab, dia mendapatkan seseorang pendamping yang simpatik, yang bisa menjadi tempat dia mencurahkan rahasia dan beban hati dalam bertahun-tahun yang tidak menentu.
Sang istri tetap setia mendampingi Pangeran Diponegoro di masa perang yang ngeri dan menegangkan. Bahkan sang istri terus mendukungnya sampai maut menjemputnya pada 20 November 1827.
Dari semua istri Pangeran Diponegoro, dialah satu-satunya yang disebut pangeran dengan penuh kasih mesra di dalam babad. Pernikahan ini juga mengesahkan hubungan keluarganya dengan keluarga Prawirodirjan, yang menurunkan nenek buyut pengasuhnya, Ratu Ageng, yang bersaudara kandung dengan kakeknya Raden Ronggo III.
Konon tak berselang lama dari pernikahan dengan Raden Ayu, Sultan Hamengku Buwono III mengalami demam tinggi yang berlangsung selama satu bulan. Dikisahkan selama hidup sultan, beliau tidak pernah menikmati kehidupan yang sehat betul, apalagi ditambah sejumlah persengkongkolan pada masa akhir kekuasaan ayah sang pangeran.
Singkat cerita setelah berbagai cara dilakukan sejak Oktober 1814 menderita sakit, Sultan Hamengku Buwono III akhirnya meninggal dunia pada 3 November, setelah berkuasa persis 865 hari.
Editor: Ihya Ulumuddin