Hari-hari Terakhir Sebelum Wafat, Bung Karno: Aku Ingin Ditembak Saja
Batu atau kristal ginjal divakum, yang mana terkumpul sebotol kecil penuh. Saat itu diketahui satu ginjal Bung Karno ternyata sudah kehilangan fungsi. Selain itu juga ditemukan penyumbatan dalam ureter kiri.
Pihak medis kedokteran Wina menyarankan segera dilakukan operasi transplantasi ginjal kiri, karena fungsi ginjal kanan juga sudah mulai memperlihatkan gejala yang sama. Pendapat Prof Dr K Fellinger dari Fakultas Kedoteran Universitas Wina diperkuat oleh tim dokter ahli Rumania yang dipimpin Prof Dr A Asian.
Tim dokter ahli RRC yang dipimpin Prof Dr Wu Chieh Ping juga memperkuat untuk segera dilakukan transplantasi. Namun Bung Karno menyatakan belum siap. “Nanti saja, ik moet mijn taak afronden. Saya harus menyelesaikan tugas saya,” kata Bung Karno. Tugas yang dimaksud yakni mengembalikan kerukunan antar partai dan golongan, serta mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan RI.
Bung Karno tak jadi melakukan transplantasi ginjal dan kembali melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara. Pengaruh dari fungsi ginjal yang tak maksimal, wajah Bung Karno dari hari ke hari terlihat bengkak. Untuk meredam penyakitnya, Bung Karno rutin mengonsumsi 14 jenis obat telan dalam sehari dan enam jenis obat suntik, termasuk vitamin.
Saat bertemu Bung Karno di akhir tahun 1966 itu, dokter Soeharto menyarankan mantan Presiden pertama RI itu untuk dirawat di rumah sakit. "Apakah tidak lebih baik dirawat di rumah sakit saja?,” kata dokter Soeharto. Jawab Bung Karno, “Ik heb niets te willen, dat moeten de behandelendt doktoren maar uitmaken. Saya tidak boleh keinginan apa-apa, seharusnya dokter-dokter yang menangani yang memutuskan”.