Cerita Bung Karno, Ingin Jalani Hidup sebagai Pelukis Andai Tak Jadi Presiden
Melihat itu, Dullah memutar akal. Sebagai salah satu perupa kesayangan Bung Karno, dia tahu bagaimana cara mendekati Bung Karno. "Maaf, Pak, matahari sudah agak tinggi," kata Dullah.
“Maksudmu?” Bung Karno menanggapi. Dullah pun langsung berargumentasi panjang lebar. Dia bicara tentang efek cahaya yang sudah tak sesuai kehendak. Dengan setengah mengarang, Dullah mengatakan matahari yang tinggi membuat efek cahaya di dalam hutan tak seindah terobosan matahari pagi.
Bung Karno seketika menghentikan sapuan kuasnya. Sejenak ia memandangi kanvas, menatap objek yang sedang dilukis, memandang Dullah dan menarik napas dalam-dalam.
"Benar juga, Dullah. Baiklah kita kembali ke sini besok lebih pagi, untuk melihat apa yang kau katakan itu," ujar Bung Karno seperti tertulis dalam "Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno". Bung Karno beserta rombongan kecilnya seketika itu kembali ke Jakarta.
Editor: Ihya Ulumuddin