Asal Usul Reog Ponorogo, Ternyata dari Ajaran Walisongo yang Penuh Makna
Sifat daerah di Ponorogo “lir kadyo macan” yang diberi nama singo barong dan didukung oleh para warok. Ada warok surogentho. Warok suromenggolo dan seterusnya. Namun meskipun demikian, Para Walisongo selalu berdoa agar salah satu anak turunnya bisa menyebarkan ajaran agama Islam di Ponorogo.
Lalu munculah adik Raden Patah yang biasa dipanggil Betoro Katong. Dia kemudian memasukkan didikan agama Islam ke wilayah Ponorogo setelah masanya walisongo. Betoro Katong itu bermakna “lir kadyo dewo kamanungsan” ampuhnya.
Kisah Betoro Katong
Setelah Betoro Katong masuk wilayah Ponorogo, dan mengajarkan didikan agama Islam, Singo barong tunduk. Para warok sowan ke Betoro Katong dan Tanya ke Betoro Katong “ Eyang.. Bagaimana Eyang bisa menakhlukkan danyang yang memiliki sifat lir kadyo macan singo barong?”.. dan Betoro Katong menjawab pertanyaan itu dengan Sanepo (Peribahasa yang diperagakan). Betoro Katong membuat sanepo sangat hebat hingga bisa menjadi sebuah kesenian yang bernama Reog.
Kesenian Reog itu sebenarnya adalah sanepo. Reog itu berasal dari bahasa arab yaitu Ro’yul Haqq, yang bermakna firasat yang benar. Sesuai dengan sabda nabi Muhammad :
اتقوا فراسة المؤمن فاءنه ينظر بنور الله
“Hati-hatilah kalian dari firasat orang mukmin, karena mereka memandang kalian dengan nur cahaya Allah”
Bagimana Betoro Katong membentuk firasat tersebut? Yaitu menggambar kepala macan yang menandakan singo barong, dan diduduki oleh gagak merak. Dimana gagak meraknya membawa (mentotol) tasbih. Kalau zaman sekarang ada orang buat reog, terus gagak meraknya gak bawa (mentotol) tasbih, berarti orang itu tidak faham lengkap tentang sejarah, dan tentu merubah sejarah.