Tradisi Kawin Ampyang, Pembauran Etnis Jawa dan Tionghoa di Kampung Pecinan Solo
Hampir semua warga melakukan kawin ampyang dan bukan suatu hal aneh lagi. Istilah kawin ampyang ini, lanjut Sumartono diibaratkan ampyang yang terbuat dari gula merah dan kacang tanah.
Filosofinya gula mentah adalah masyarakat Jawa dan kacangnya diibaratkan warga Tionghoa "Itu sudah biasa. Sudah ada sejak dulu, dan sampai sekarang tidak ada masalah," ujar Sumartono.
Menurut dia, dalam pernikahan itu kunci utamanya adalah cinta. Orang menikah pastinya ada sesuatu yang mendukung untuk hidup bersama.
"Pasangan akan saling mengisi dengan segala perbedaannya. Ya ibaratnya campuran gula dan kacang menghasilkan rasa yang gurih dan manis, sama keberagaman. Perbedaan rasa itu indah jika kita bisa menyikapinya dengan benar,” ujarnya.
Seperti pernikahan antar etnis di Balong yang akhirnya melahirkan generasi baru yang sudah berdarah campuran. Maka tak heran di kawasan kampung Balong kebanyakan sudah berdarah campuran. Berkulit kuning coklat dan bermata sipit.