Tinggal 38 Persen, PO Bus di Jateng Terancam Bangkrut akibat Pandemi Covid-19
“Ini seperti yang dilakukan di Kota Semarang. Semua busnya bisa berangkat bergiliran, namun memang pendapatan berkurang, tapi daripada tidak sama sekali,” ujarnya.
Dia mengakui, daya beli masyarakat turun, pemakaian yang pertama adalah kebutuhan pokok, sehingga permintaan akan angkutan umum turun.
“Belum lagi anak sekolah juga belum aktif berangkat sekolah. Sementara anak sekolah adalah salah satu pemakai angkutan umum yang besar. Langkah utama adalah mendorong agar demand dan kepercayaan pada transportasi umum kembali meningkat di tengah masyarakat, di era new normal ini,’’ kata Satrio.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso menambahkan, dampak pandemi Covid-19 memang dirasakan semua lini, termasuk sektor transportasi. Kondisi demikian patut disadari dan jadi perhatian bersama.
‘’Di masa new normal ini kita berharap penumpang mendaptakan jaminan kesehatan. Kami mendorong dan mensuport, bagaimana angkutan umum itu sehat, biar masyarakat mau menggunakan dan ada jaminan sesuai protokol kesehatan. Mari kita menghidupkan kembali aktivitas ekonomi lewat angkutan umum,’’ tandas Hadi.