Potret Taman Literasi Bulusan, Dulu Lahan Kosong dan Horor Kini Jadi Ruang Publik
Menurutnya, aktivitas warga untuk berkegiatan sosial semakin tinggi, namun kekurangan fasilitas umum (fasum). Sehingga ada inisiatif dari warga dan pengurus RT untuk memanfaatkan ruang-ruang yang masih kosong untuk aktivitas sosial dan kebersamaan.
“Kini syukur alhamdulillah dari inisiatif warga yang ditampung Pak RT terwujudlah sebuah ruang publik yang diharapkan oleh warga. Walaupun luasnya tak begitu luas kurang lebih 200 meter persegi, tapi sudah cukup untuk membuat warga senang sekali,” ujar Agus.
“Harapan kami kepada yang berwenang supaya kalau ada fasum bisa dioptimalkan segera bisa diwujudkan. Terus terang aktivitas rutinitas akan menjenuhkan manakala tidak ada aktivitas sosial untuk komunikasi dan kebersamaan, apakah itu aktivitas sosial untuk olahraga, bazar dan kegiatan anak-anak,” ujar pensiunan PNS ini.
Menurut dia, keberadaan Taman Literasi karena dilatarbelakangi oleh banyak anak-anak di bawah hingga berusia remaja. Kemudian dilatarbelakangi banyak aktivis akademika seperti dosen dari berbagai macam keilmuan yang mengajar di sekitar Undip. “Sehingga taman literasi pas banget, kebetulan ada 11 tenaga pengajar, ada profesor, insinyur dan sebagainya,” ujarnya.
Di sisi lain, Agus mengungkapkan bahwa situasi alam dan lingkungan memang dulunya tanah di Bulusan tidak banyak diminati, selain sepi juga ada sekitar 1998-1999 ada hal-hal yang sedikit secara kasat mata banyak yang mengalami.