Pakai Hazmat saat Kibarkan Bendera, Paskibraka: Saya Jadi Tahu Gimana Beratnya Perjuangan Nakes
Namun ternyata, tugasnya dipindah ke RSDC Donohudan. Karena upacara bersama ratusan pasien Covid-19, sia terpaksa menggunakan hazmat demi protokol kesehatan.
"Tapi dengan ini, saya jadi tahu gimana beratnya perjuangan tenaga kesehatan (nakes) kita. Mereka berjuang susah payah melawan Covid-19. Mereka menggunakan hazmat seperti ini tiap hari. Saya yang sebentar saja terasa kepanasan," ujarnya
Enrica berharap pandemi segera pergi dan kondisi kembali membaik. Dia juga mengajak semua masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan. "Kepada para tenaga medis, tetap semangat dalam membasmi Covid-19 ya," ujarnya.
Hal senada disampaikan Ahmad Iskandar, pengibar bendera merah putih lainnya. Dia mengatakan, tak pernah membayangkan akan bertugas mengibarkan bendera menggunakan pakaian hazmat seperti ini. "Panas banget, sumpek juga. Tapi saya tetap semangat mengibarkan sang merah putih ke angkasa," katanya.
Selain panas dan sumpek, mengenakan hazmat saat bertugas mengibarkan bendera menurut dia memiliki banyak tantangan. Selain sulit untuk berjalan, sarung tangan yang digunakan juga licin dan bisa saja menghambat prosesi pengibaran.