Nyaris Terjebak, Mahasiswa Indonesia di China Nekat Pulang ke Gunungkidul dari Uang Bantuan
Sebagai mahasiswa, dia sebenarnya berusaha mencari pekerjaan di sebuah hotel. Namun baru dua minggu bekerja dia berpikir ulang untuk kembali ke Tanah Air karena 14 warga setempat terserang virus korona.
"Inginnya sampai tiga tahun atau lulus kuliah Diploma III, saya baru pulang. Namun situasinya benar-benar membuat saya was-was dan takut," katanya.
Dia menceritakan, uang Rp1 juta yang dikirimkan orangtua yang bekerja sebagai tukang tambal ban dan juga perajin tempe harus cukup untuk hidupnya selama sebulan. Sementara, untuk sekali makan dia harus merogoh uang Rp30.000. Sehingga dia pun kesulitan biaya pulang ke Indonesia.
"Alhamdulillah ada kiriman uang dari beberapa keluarga, saya beli tiket habis sekitar 1.000 yuan untuk pulang," katanya.
Selama di Yangzhou, Opik mengaku belum bisa melakukan komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Dia hanya menerima imbauan untuk kembali ke Tanah Air.
"Kalau tidak ada kiriman uang, ya bagaimana lagi saya bertahan di tengah kota yang saat ini sangat sepi dan di tengah ancaman virus korona," ujarnya.
Kondisi fisik Opik saat pulang sangat sehat. Tidak ada tanda-tanda demam, batuk, pilek dan sesak napas, sehingga dia lepas dari karantina di Bangkok, Thailand dan bisa kembali ke Indonesia.
Editor: Nani Suherni