Lahan Sering Tergenang Banjir, Petani di Banyumas Buat Sawah Apung
Bambu berbentuk persegi panjang mirip rakit inilah kemudian diberi media tanam berupa gulma dari enceng gondok. Kemudian di atasnya gulma di timbun tanah yang gembur dari lumpur sawah. Ketebalan media tanam gulma enceng gondok dan lumpur sawah ini bisa mencapai 15 cm.
Enceng gondok atau gulma lainnya ini berfungsi untuk menutup sela-sela bambu agar tanah sebagai media tanam tidak terjatuh kedalam air dasar sawah. Agar media tanam ini subur kemudian diberi campuran pupuk organik dari air kencing kelinci yang difermentasi. Pupuk ini berfungsi untuk menurunkan penggunaan pupuk kimia.
Pengagas sawah apung, Imam Pamungkas mengatakan, inovasi sawah apung ini pernah mendapat penghargaan juara pertama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2018 dan telah dikembangkan di sejumlah tempat.

Sebelum di Desa Nusadadi, inovasi pertanian ini juga telah dipraktikkan di Desa Plangkapan, Kecamatan Tambak. Dalam perhitungannya, setiap hektare mampu panen 4 ton padi. “Memang kalau dibandingkan dengan sawah biasa produksinya masih kalah, karena sawah biasa mampu memproduksi hingga 6 ton per hectare,” kata Imam.
Pembuatan sawah apung itu sebagai jawaban atas kondisi alam yang terjadi. Namun saat ini kendala untuk membuat sawah apung membutuhkan dana yang tidak sedikit. Diperkirkan pembuatan media tanam dalam satu hektar biayanya mencapai Rp5 juta. Dalam satu musim, biaya total tanam hingga panen mencapai Rp15 juta, namun pendapatan dapat mencapai Rp20 juta.
“Ya, lumayan mahal sih. Kira-kira bisa sampai Rp500.000 habislah per seperempat bau. Tapi, bisa balik modal,” ucap Marfungah, petani asal Desa Nusadadi.
Editor: Kastolani Marzuki