Kue Kamir, Jajanan Khas Pemalang yang Legendaris
Fahd Umar, penjual kamir mengaku dirinya bersama istri merupakan keturunan ke empat penerus pembuat kue kamir khas Pemalang. Saat Ramadan, banyak warga mencari kamir untuk makanan buka puasa, takjil atau oleh-oleh.
“Menjelang Lebaran, biasanya pemesanan meningkat. Untuk oleh-oleh keluarga, tetangga, atau teman kantor,” kata Fahd Umar, Kamis (22/4/2021).
Makanan ini cukup mengenyangkan dan bisa awet hingga empat hari. Konsumen lebih senang dengan rasa yang original daripada rasa lainnya. Harga kamir Rp2.000 per biji dan bisa dipaking menggunakan kardus khusus. Setiap hari, produksi kamir sekitar 3.000 biji.
Untuk menjalankan usaha itu, dirinya mempekerjakan 15 karyawan. Usaha rumahan ini sempat terkena dampak Covid-19. Namun kini menggeliat karena konsumen dan pemesanan mulai kembali banyak.
Setiap hari, banyak orang datang ke lokasi pembuatan kamir yang berada di tengah kampung. Mereka membeli untuk keluarganya atau oleh-oleh bagi warga dari luar kota. Para pembeli berasal dari Pekalongan, Tegal, Semarang, Jakarta, dan Bandung.
Selain itu juga banyak dari luar Jawa. Seperti Medan, Palembang, Makassar, Sulawesi dan Papua. Bahkan ada juga yang membawa ke luar negeri untuk oleh-oleh.
Jika melintas di jalur Pantura Pemalang, bisa mampir mencicipi jajanan legendaris ini. Lokasi kampung pembuatan kamir cukup mudah dijangkau, berada di tengah kota dan berjarak sekitar 2 kilometer dari Pendopo Kabupaten Pemalang.
Editor: Ary Wahyu Wibowo