Kisah Sukses Ahmad, Anak Buruh Tani yang Gagal Tes Seleksi TNI AD Kini Jadi Profesor
"Karena tidak lolos, akhirnya saya tidak pulang, karena sudah kadung pergi jadi saya cari sekolah sendiri ke Jogja. Di Jogja pokoknya saya berfikir orang tua saya jangan sampai tahu kalau saya kuliah. Karena biaya kuliah isinya nangis. Kalau jual tanah semua tidak mungkin satu semester selesai, apalagi selama kuliah. Satu semester juga belum tentu cukup. Akhirnya saya cari usaha sendiri, mulai ngajar dan jualan buku di shoping Beringharjo," ujar Ahmad.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya itu, ketika semester dua, ia mulai mengajar di SD Muhammadiyah dan semester enam, ia mulai mengajar di SMK Negeri 3 Stasiun Tugu Gowongan Jogja.
Namun rahasia yang ia simpan itu lama kelamaan terpaksa harus ia bongkar ketika ia mendapatkan beasiswa. Di mana untuk mendapatkan beasiswa itu, diharuskan mendapatkan tanda tangan dari orangtuanya.
"Orang tua tidak tahu kalau saya kuliah. tahunya sudah semester 6 gara-gara saya dapat beasiswa, harus tanda tangan orang tua," jelas Ahmad yang mengambil gelar doktor pendidikan matematika UPSI Malaysia.
Saat mengajar itulah perjalanan hidupnya terus berubah, setelah mendapatkan beasiswa, ia pun diangkat menjadi asisten dosen di IKIP Muhamadiyah Jogja sampai lulus. Lalu karirnya meningkat menjadi dosen di kampus tersebut selama dua tahun di UAD hingga akhirnya pindah ke Purwokerto.