Kisah Pekerja di Balik Perbaikan Jalan Provinsi, Siaga 24 Jam hingga Tak Kenal Istilah Libur
"Iya, kalau sakit tetap bekerja memantau jalan dengan naik angkutan umum. Seperti saat ini, tangan saya keseleo dan tidak bisa mengendarai motor sendiri," ujarnya.
Di dalam bus, pandangannya mengamati detail setiap ruas jalan yang dilintasinya. Jika menemukan kerusakan, ia langsung turun untuk memotret dan memberikan tanda pakai cat pilox, untuk kemudian dilaporkan. Setelah itu, Pak Sar naik angkutan dan kembali menyusuri jalan.
"Saya sudah sembilan tahun bekerja seperti ini. Bagi saya kenyamanan dan keselamatan warga di jalan adalah tanggung jawab utama pekerjaan ini," katanya.
Begitu pula dengan cerita Setyo Purwanto (37), seorang kelompok masyarakat miskin sehat bina marga (Pokmas Bima) Provinsi Jawa Tengah. Pekerjaannya sangat lekat dengan aspal.
"Setiap hari mengaspal jalan, apalagi waktu ada banyaknya laporan jalan rusak dan menjelang Ramadan dan mudik," terangnya. Menurutnya, pekerjaan memperbaiki jalan bukan soal seberapa gaji yang diterima, melainkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.