Khas Milenial, Kaos dari Relawan Bermotif Gibran-Teguh Naik Banteng di Atas Karpet Merah
"Tidak hanya asal ide. Sebagai orang Jawa ada filosofinya," kata Teguh.
Filosofi baju khas yang akan dipakai sekaligus sebagai wujud doa. Selain harapan kemenangan, dalam perjalanannya nanti sebagai pemimpin dapat ngayomi (melindungi) dan ngayemi (menentramkan). Sedangkan tujuannya akhirnya adalah mensejahterakan masyarakat Kota Solo. Dirinya tidak mengetahui makna baju khas yang dipakai saat ini mengingat pemberian dari distro.
"Yang tahu teman-teman distro, ini kreativitas anak-anak muda yang memiliki ide cemerlang. Ini cerminan milenialnya Mas Gibran," ucapnya.
Sementara Gibran sendiri mengakui banyak ide telah masuk terkait baju khas maupun singkatan nama pasangan. Namun sejauh ini belum dipilih.
"Saya senang sekali dikasih baju seperti ini. Sumbangan dari teman teman kreatif Solo," ucap Gibran.
Semua ide-ide dan kreativitas yang masuk akan ditampung. Ide ide yang masuk menunjukkan bahwa Solo juga sangat kreatif dan tidak kalah dengan Bandung dan Bali.
"Teman teman muda sangat kreatif," katanya.
Dia mengaku sangat senang dan berharap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tak sekedar hanya kontestasi dan debat politik. Namun juga sebagai ajang kreatif anak muda.
Editor: Nani Suherni