Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Baznas Salurkan 50 Ekor Kambing Kurban Dam Haji di Pemalang
Advertisement . Scroll to see content

Keutamaan 10 Hari di Bulan Dzulhijjah

Rabu, 22 Juli 2020 - 05:30:00 WIB
Keutamaan 10 Hari di Bulan Dzulhijjah
Ilustrasi Bulan Dzulhijjah. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

Di dalam kitab Sahih Bukhari telah disebutkan dari Ibnu Abbas secara marfu:

Tiada suatu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah padanya selain dari hari-hari ini. Yakni sepuluh hari pertama dari bulan Zul Hijjah. Mereka (para sahabat) bertanya, "Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?" Rasulullah Saw. menjawab: Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah, terkecuali seseorang yang keluar dengan membawa hartanya untuk berjihad di jalan Allah, kemudian tidak pulang selain dari namanya saja.

Imam Ahmad mengatakan, Nabi Saw. yang telah bersabda: "Sesungguhnya malam yang sepuluh itu adalah malam yang sepuluh bulan Dzzulhijjah, dan al-watr (ganjil) adalah hari Arafah, sedangkan asy-syafu (genap) adalah Hari Raya Kurban.
Firman Allah Swt.:

{وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ}

dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3)

Dalam hadis di atas telah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-watr ialah hari Arafah karena jatuh pada tanggal sembilan Zul Hijjah, dan yang dimaksud dengan asy-syafu ialah Hari Raya Kurban karena ia jatuh pada tanggal sepuluh. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Ad-Dahhak.

Pendapat kedua. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Said Al-Asyaj, telah menceritakan kepadaku Uqbah ibnu Khalid, dari Wasil ibnus Sa’ib yang mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Ata tentang makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Apakah yang dimaksud adalah salat witir yang biasa kita kerjakan? Ata menjawab, "Bukan, tetapi yang dimaksud dengan asy-syafu ialah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan al-watru adalah Hari Raya Ad-ha."

Pendapat ketiga. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amir ibnu Ibrahim Al-Asbahani, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari An-Numan ibnu Abdus Salam, dari Abu Said ibnu Auf yang menceritakan kepadaku di Mekah, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnuz Zubair berkhotbah, lalu berdirilah seorang lelaki mengatakan, "Wahai Amirul Mu’minin, terangkanlah kepadaku makna syafu dan watru. Maka Abdullah ibnuz Zubair menjawab, bahwa yang dimaksud dengan asy-syafu ialah apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. (Al-Baqarah: 203) Dan yang dimaksud dengan al-watru ialah apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosapula baginya. (Al-Baqarah: 203)

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut