Ketua KPU Hasyim Asy’ari Ajak Pemimpin Teladani Sifat Nabi Muhammad SAW
Tentunya dalam menuntun umatnya harus dengan kasih sayang. Akhlak mulia Nabi itu juga dikenal sebagai seorang amanah alias jujur. Ini juga terlihat pada perjalanan hidup Nabi SAW, ketika sampai pada fase berdagang. Setelah menikah dengan Khadijah.
Ada riwayat menyebutkan “sebaik-baiknya tempat adalah masjid, sejelek-jelek tempat adalah pasar”. Sebab, di pasar itu terjadi transaksional. Inilah dibutuhkan kejujuran, baik pembeli khususnya pedagang.
“Kejujuran yang riil bukan di masjid, tapi yang riil di pasar. Kalau Bapak Ibu berbelanja, itu ada timbangan, sering kali timbangan dengan bobotnya yang ditimbang tidak seimbang. Pasar bukan hanya yang kita kenali misalnya Pasar Pedurungan. Pom bensin itu juga pasar, timbangannya itu ditera ada kecurangan atau tidak, kalau tidak hati-hati akan terjerumus,” lanjutnya.
Contoh selanjutnya yang diceritakan Hasyim Asy’ari adalah ketika ada renovasi Kakbah di Kota Mekah. Saat akan menempatkan Hajar Aswad jadi rebutan suku-suku di Mekah. Kemudian mereka bersepakat menunjuk Nabi Muhammad SAW yang memimpin penempatan Hajar Aswad itu. Nabi menggunakan sorban untuk mengangkatnya yang masing-masing ujungnya dipegang para pemimpin suku di Mekah itu. Jadi semuanya merasa terwakili.
“Kenapa Nabi ditunjuk? Karena dikenal sebagai manusia yang amanah, sebelumnya sudah diuji. Jangan sebagai pemimpin pinginnya sendirian tidak mau berbagai. Nabi itu sampai derajat amanah itu bukan ujug-ujug, tetapi sudah teruji,” sambungnya.