Ciptakan Gelang Getar Salat, Mahasiswi Unissula Ini Disanjung Ganjar
Aisyah yang juga penyandang disabilitas menjelaskan bahwa GGS berfungsi sebagai indikator gerak salat berupa getaran dan efek getar pada gelang dipilih karena alat tersebut khusus diciptakan untuk membantu penyandang tunarungu saat melakukan ibadah salat.
Dalam pemakaiannya, kata dia, terdapat dua gelang untuk dipakai imam dan makmum. Gelang yang dipakai imam akan mengirim kode setiap gerakan salat kepada gelang makmum sehingga menghasilkan sebuah getaran. "Kami menciptakan ini karena tidak banyak alat yang membantu teman-teman difabel, khususnya tunarungu dalam hal ibadah," katanya.
Inovasinya tersebut juga tidak terlepas dari curhatan kawan-kawan Aisyah sesama penyandang disabilitas, sedangkan pertimbangan lain dalam penciptaan GGS tersebut adalah soal fikih.
Aisyah mengatakan dalam Madzhab Syafi’i yang banyak dianut umat Islam di Indonesia, jika seseorang dalam salat bergerak lebih dari tiga kali, maka salatnya batal. "Untuk teman-teman tunarungu akan kesulitan mendengar takbir dari imam, tidak jarang dari mereka sering menoleh untuk mengetahui gerak imam karena pertimbangan fikih tersebut, kami lahirkan GGS," ujarnya.
Untuk proses inovasi GGS, Aisyah bersama timnya menghabiskan biaya mencapai Rp5 juta-6 juta, namun besarnya biaya tersebut akan terpotong jika mampu diproduksi massal hanya Rp400.000 dan kemungkinannya bentuknya akan diperkecil.
Editor: Kastolani Marzuki