Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Gempa Hari Ini Magnitudo 5,6 Guncang Tahuna Kepulauan Sangihe, Tak Berpotensi Tsunami
Advertisement . Scroll to see content

BMKG : Kajian Ilmiah LIPI soal Potensi Gempa Besar di Jawa Dipelintir

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:04:00 WIB
BMKG : Kajian Ilmiah LIPI soal Potensi Gempa Besar di Jawa Dipelintir
Logo BMKG. (Foto: istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

"Indonesia adalah satu dari sedikit negara di dunia yang sepenuhnya terletak di dalam kawasan "cincin api" sehingga bencana bisa terjadi sewaktu-waktu. Fakta inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat Indonesia," katanya. 


Hidup Harmoni dengan Gempabumi

Menurut Dwikorita, yang paling penting saat ini adalah bagaimana kita membangun harmoni hidup bersama dengan gempa bumi melalui mitigasi bencana untuk meningkatkan perlindungan dan pertolongan mandiri dalam menghadapi bencana. Daripada, kata dia, larut dalam diskusi, perhitungan, ramalan, dan perkiraan mengenai kapan lagi gempabumi akan terjadi.

"Gempa bisa terjadi sewaktu-waktu, kapan pun dan di mana pun. Namun kita berupaya jangan sampai ada korban, dengan cara tidak panik dan paham apa yg harus disiapkan sebelum, saat, dan setelah gempabumi," kata Dwikorita.

Terkait informasi hoaks yang muncul dan viral di medsos, Dwikorita mengatakan sudah sepatutnya para netizen dapat menyaring secara bijak aneka kabar berupa teks, foto dan video yang begitu gampang diakses publik. "Perlu proses saring sebelum sharing sehingga (informasi hoaks) tidak menjadi viral. Jangan membuat masyarakat resah dengan kabar yang dapat menyesatkan," tuturnya.

"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan "tergoda" dengan ramalan-ramalan atau prediksi. Pastikan informasi terkait gempabumi bersumber dari BMKG. Silakan akses info BMKG melalui website maupun media sosial bukan yang lain. Kami terus memantau selama 24 jam," tambah dia.

Dwikorita mengatakan, viralnya kabar hoax tentang bencana lantaran munculnya rasa takut dan cemas yang berlebih. Kondisi ini mendorong individu untuk ingin segera tahu kapan dan di mana gempa akan kembali terjadi. Selain itu, tambah dia, tidak sedikit individu yang merasa bangga ketika dapat menyebarkan berita pertama kali tanpa peduli kebenaran isi berita.

Editor: Kastolani Marzuki

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut