Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Aparat TNI-Polri Buru Penembak ASN hingga Tewas di Yahukimo, Pelaku Diduga OPM
Advertisement . Scroll to see content

Bidan Desa Ini Takut Layani Ibu Melahirkan Gegara Mitos di Dusun Ngaglik, Begini Ceritanya

Minggu, 07 Maret 2021 - 13:35:00 WIB
Bidan Desa Ini Takut Layani Ibu Melahirkan Gegara Mitos di Dusun Ngaglik, Begini Ceritanya
Seorang ibu di Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Rembang menimang bayinya. (iNews/Musyafa Musa)
Advertisement . Scroll to see content

Tak hanya aparat pemerintah, rasa takut masuk Dusun Ngaglik juga menghinggapi para pekerja seni dan pelaku usaha lain. Manakala berlangsung warga punya hajat di dalam dusun ini, tidak pernah ada grup seni tayub maupun ketoprak yang berani tampil. Bahkan tukang penggergajian kayu ketika ada warga Dusun Ngaglik berniat memotong kayu, mereka meminta supaya kayu diangkut keluar dusun dulu.

“Saya sendiri mengalami mas. Kayu saya angkut keluar dusun. Kan akhirnya harus tambah anggaran untuk angkutan, tambah tenaga, tambah waktu. Jadi nggak hemat. Itu baru soal mau motong kayu lho, belum yang lain, “  ujarnya.

Perlakuan tidak adil yang diterima masyarakat Dusun Ngaglik pernah disampaikan kepada Bupati Rembang, Abdul Hafidz. Hafidz bahkan sempat berjanji akan datang ke Dusun Ngaglik bersama para pejabat untuk mengkampanyekan bahwa Ngaglik tidak seseram yang dibayangkan. Tapi sayang, sampai sekarang rencana itu belum terlaksana.

“Waktu di Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sumber, Pak Bupati janji begitu. Langsung saya sampaikan kepada masyarakat. Warga ya seneng, tapi nyatanya juga belum ada datang ke sini. Pak Bupati kan kiai, masak nggak berani, “ katanya.

Sukarjan ingin supaya mitos masuk Dusun Ngaglik ketiban sial perlahan bisa musnah. Kalau terbelenggu mitos, pihaknya khawatir dusunnya akan sulit maju. “Yang sana-sana sudah berlarian, sini kok masih jalan di tempat. Kita juga pengin setara, “ ujarnya.

Dibalik rentetan kisah tidak mengenakkan itu, menurut Sukarjan, terselip sisi positif. Sejak kecil sampai berusia 42 tahun, ia tidak pernah mendengar ada warga Dusun Ngaglik kemalingan karena diduga pelaku kejahatan juga takut masuk ke dalam kampungnya.

Bahkan Sukarjan menyebut Dusun Ngaglik seakan-akan seperti memperoleh dispensasi kriminal. “Motor lupa ditaruh di luar rumah sampai pagi ya aman-aman saja. Sisi positifnya itu, dispensasi kriminal, karena maling takut masuk sini, “ ujarnya.
 
 

Editor: Ahmad Antoni

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut