Ada Peserta Habiskan Rp100 Juta untuk Suku Cadang Demi Ikut Kontes Sepeda Ontel
Menurut Heru, bersepeda dengan rute tertentu hanya menjadi gebyar musiman. Panitia berencana membuat kontes pameran setiap bulan supaya antusiasme bersepeda lestari atau tidak hanya menjadi tren sesaat.
“Gayeng tadi. Peserta dari berbagai kota, dari Tuban, Madiun, Ngawi, Jepara, Kudus, Bawen, Semarang. Sebanyak 50 persen dari luar kota (Solo). Saya enggak nyangka event perdana seramai itu,” ucapnya.
Heru mengatakan kontes sepeda onthel perdana di Solo itu diikuti 90 peserta kelas minion, 55 peserta kelas mountain bike, dan 22 peserta kelas seli. Jumlah peserta kelas minion lebih banyak karena harga rangka sepeda lebih terjangkau dibandingkan jenis sepeda gunung atau seli.
“Mahal belum tentu menang. Ada peserta minion habis sekitar Rp100 juta tapi tidak menang. Sepeda brompton juga kalah karena enggak dapat poin,” katanya.
Heru mengungkapkan kontes kereta angin perdana tersebut berlangsung tanpa sponsor. Panitia yang tergabung melakukan promosi bekerja sama dengan 10 komunitas sepeda dan forum jual beli sepeda via Whatsapp Group dan Facebook.