2 Bulan Beroperasi, Jumlah Penumpang KRL Yogyakarta-Solo Naik 31,5 Persen
Naiknya jumlah penumpang tak lepas dari ketersediaan sarana dan prasarana perkeretaapian yang lebih mendukung. Kapasitas sarana KRL memungkinkan lebih banyak melayani pengguna dibandingkan kereta api (KA) Prameks yang sebelumnya melayani lintas tersebut.
Dengan empat kereta pada setiap rangkaian (stamformasi/SF 4), KRL pada masa normal dapat melayani 1.000 orang dalam satu kali perjalanan. Namun dalam masa pandemi Covid-19, kapasitas pengguna sebanyak 74 orang untuk setiap kereta. Pembatasan disiasati dengan mengoperasikan rangkaian KRL yang lebih panjang.
Yakni rangkaian yang terdiri dari delapan kereta (stamformasi/ SF 8). Jika pada awal operasional seluruh rangkaian yang beroperasi adalah SF 4, saat ini sudah dua dari tiga rangkaian yang setiap hari beroperasi menggunakan SF 8.
Dari sisi prasarana, pemberhentian di stasiun juga bertambah dibandingkan layanan KA Prameks. KRL Yogyakarta-Solo melayani 11 stasiun pemberhentian atau empat stasiun lebih banyak. Stasiun yang dibuka untuk layanan sejak KRL beroperasi adalah Stasiun Gawok, Stasiun Delanggu, Stasiun Ceper dan Stasiun Serowot.
Pertumbuhan pengguna KRL di empat stasiun juga bertambah. Rata-rata per hari pengguna KRL yang naik dari empat stasiun di bulan Maret sebesar 522 orang. Atau naik 49 persen dibanding bulan Februari 2021 sebanyak 350 orang per hari.
Editor: Ary Wahyu Wibowo