Wina Sukses Hipnotis Penonton lewat Tari Kontemporer Liberika di Cianjur BCC
"Tarian ini menggambarkan perubahan iklim selain sebagai cara alam menyeimbangkan diri tapi juga bisa disebabkan oleh ulah manusia. Melalui Liberika, kita mengerti, kerakusan selalu berujung petaka, kini, dan masa depan,” ujar Sri Wahyuni.
"Tari Liberika adalah pesan bagi diri dan siapa saja untuk membuka mata dengan bijaksana bahwa Bumi sedang tidak baik-baik saja," tutur dia.
Sebelumnya, Direktur Program dan SDM Lokatmala Foundation Dika Dzikriawan mengatakan, Tari Liberika wujud kekhawatiran akan nasib kopi yang saat ini telah meramaikan pergaulan budaya pop justru terancam punah karena perubahan iklim.
“Kopi yang banyak tumbuh di Indonesia itu kan terdiri atas empat jenis, yaitu, robusta, arabika, ekselsa, dan liberika.Yang terakhir liberika, menurut para ahli konon paling siap dan beradaptasi dengan iklim,” kata Direktur Program dan SDM Lokatmala Foundation.
Salah satu Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Cianjur ini menyatakan, liberika memiliki beberapa keunggulan, di antaranya, mudah ditanam di dataran rendah dan lebih tahan terhadap kondisi cuaca, hama, serta penyakit.
“Kopi jenis ini juga memiliki toleransi tinggi dan mampu beradaptasi dengan kondisi tanah yang kurang subur, bahkan pada tanah jenis lempung, tanaman kopi ini masih mampu untuk tumbuh,” ujar Dika.
Editor: Agus Warsudi