Viral, Anggota DPRD Garut Ngamuk, Banting Mik Berkali-kali, Ini Pemicu Kemarahannya
Euis, kata Juju, dinilai meremehkan anggota dewan yang lain dan sama sekali tak mau menerima aspirasi dari masyarakat Garut. "Saya mencoba memberikan laporan kepada Ketua DPRD Garut terkait Perda apa saja yang akan diselesaikan pada 2022 ini. Adapun perda yang akan diselesaikan untuk tahun ini ada tiga, yakni, tentang pesantren, nama jalan, dan pelestarian domba garut," ujar Juju Hartati.
Namun, tutur Juju Hartati, ketika membahas tentang Raperda Pelestarian Domba Garut, Euis Ida Wartiah seolah tak mau menerima dan langsung memotong pembicaraan dengan mengatakan peraturan tersebut tak penting.
Padahal, tutur Juju, sebelumnya ketiga perda itu telah disepakati bersama karena memang dijaring dari aspirasi masyarakat. "Ketiga perda ini sangat perlu dan merupakan aspirasi murni dari masyarakat. Selain itu ketiga perda ini juga sudah dibuat naskah akademiknya dengan biaya masing-masing Rp50 juta. Tapi kenapa tiba-tiba mau dipatahkan oleh ketua dewan, ini kan penghamburan anggaran," tuturnya.
Juju Hartati mengungkapkan bahwa pembuatan perda tidak main-main karena selain membutuhkan waktu lama juga membutuhkan biaya yang tak sedikit. "Ketua DPRD Garut malah menanggapinya sambil makan. Ketua juga menyebut hal itu tak penting karena saat itu dia sedang membahas rencana pemberangkatan ke Bali," ucap Juju Hartati.
Juju menegaskan, dia akan konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui tiga perda tersebut. "Apalagi naskah akademiknya saat ini tengah dibuat. Yang pasti saya ngamuk karena kecewa dan menyayangkan sikap Ketua DPRD yang bertindak seenaknya dan tak menghargai aspirasi rakyat," ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari unsur pimpinan DPRD Garut. Sekretaris DPRD Kabupaten Garut Dedi Mulyadi menolak untuk memberikan tanggapan.
Editor: Agus Warsudi