TPPAS Lulut Nambo Dipastikan Terapkan Teknologi Ramah Lingkungan
"Teknologi MYT tersebut terdiri dari 5 tahap, yakni waste intake, mechanical processing, bilogical stage, biological drying dan mechanical material separation," sebut Hanif di Bandung, Rabu (24/3/2021).
Lebih lanjut Hanif mengatakan, TPPAS Lulut Nambo adalah tempat pengelolaan sampah yang berdiri di atas lahan seluas 15 hektare dengan kapasitas sampah 1.800 ton per hari yang diperuntukkan untuk mengelola sampah dari beberapa daerah, di antaranya Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan.
Beberapa output dari pengelolaan sampah rumah tangga tersebut berupa refused derived fuel (RDF), bulir pupuk, dan biogas. Produk RDF akan dijual sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk pabrik semen seperti Indocement dan bulir pupuk dapat dijual ke PT Pupuk Indonesia atau masyarakat sesuai harga pasar.
"Hasil ekstraksi berupa biogas pun dapat menjadi sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik demi menunjang tarif listrik EBTKE (energi baru terbarukan konversi energi) yang lebih kompetitif melalui PLN," katanya.
Pengolahan sampah yang ramah lingkungan ini, kata Hanif, merupakan pilot project persampahan pertama di Provinsi Jabar yang menggunakan teknologi pengolahan sampah modern.