SRIT Bawakan Rampak Kendang Sunda di Festival Sekolah Saitama, Simbol Kedekatan Jepang-Indonesia
Sementara itu, Kepala sekolah Seibu Bunri Marques Pedro menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan dan penampilan SRIT di Festival Sekolah Seitama. Undangan ini juga menjadi sebuah simbol peringatan penting 65 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Marques Pedro juga menanyakan tentang pembelajaran di SRIT. Dia ingin tahu apakah pelajar di SRIT juga menerima banyak tugas dan pekerjaan rumah seperti pelajar di sekolah Jepang.
Kepala SRIT Ari Driyaningsih mengatakan, walaupun ada beberapa mata pelajaran yang memberikan tugas dan PR, SRIT tetap memberikan keseimbangan kepada murid-murid untuk mengekspresikan minat dan bakat mereka.
Sebagai contoh, 10 murid yang membawakan Rampak Kendang hanya perlu menghabiskan waktu sekitar 4 kali pertemuan selama 1,5 jam untuk mempersiapkan penampilan mereka di festival sekolah tersebut.
Tidak hanya itu, kata Kepala SRIT, kedua sekolah sepakat menjajaki berbagai kegiatan lain yang bisa dilaksanakan bersama pada masa mendatang. Meskipun jarak antara Sayama dan Tokyo cukup jauh di peta, namun dengan jalan tol yang efisien, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. "Ini membuka peluang besar untuk pertukaran budaya dan kolaborasi yang lebih erat antara kedua sekolah," kata Kepala SRIT.
Salah satu momen paling menarik adalah ketika beberapa murid dari Seibu Bunri mencoba memainkan peralatan Rampak Kendang, termasuk gamelan. Hal ini menggarisbawahi bahwa seni musik Indonesia bisa menjadi pengikat kuat dalam mempererat hubungan antarmurid kedua negara.
Festival sekolah di Seibu Bunri Junior High/High School Sayama, Saitama, telah membuktikan bahwa seni dan budaya memiliki kekuatan besar dalam membangun jembatan persahabatan antarbangsa. Melalui Rampak Kendang, Indonesia dan Jepang kembali menunjukkan tekad untuk menjaga dan memperkuat hubungan yang sudah terjalin selama puluhan tahun.
Editor: Agus Warsudi