Menurut Ade, tidak menutup kemungkinan sistem yang ditemukan oleh bocah SMP itu diadopsi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor sebagai salah satu upaya penanganan bencana banjir. Tapi, ia akan terlebih dahulu melalukan penelitian lanjutan jika ingin menerapkannya.
"Mungkin kalaupun bisa skala besar, akan ada penelitian lanjutan dan tugas Bappeda yang melakukan penelitian lanjutan," kata Ade.
Ade Yasin berjanji akan mendaftarkan temuan-temuan dan teknologi yang lahir dalam kegiatan Gelar Inovasi Daerah 2019 ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJHKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).
"Kita daftarkan temuan mereka, sehingga idenya tidak dicuri. Diharapkan mampu menggerakkan semangat mereka untuk membantu Pemkab Bogor, mudah mudahan ada yang maju ke tingkat nasional," tuturnya.
Sementara menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bogor, Syarifah Sofiah sebagai pelaksana kegiatan, mengapresiasi atas ide-ide yang lahir dari peserta.
Perempuan yang akrab disapa Ipah itu menyebutkan bahwa bencana di Bogor tidak didominasi oleh banjir, melainkan tanah longsor. Jadi jika akan diterapkan di Kabupaten Bogor (teknologinya) perlu dikembangkan lagi.
"Banjir di Kabupaten Bogor tidak terlalu karena kita berada di hulu. Bencana kita lebih banyak longsor," kata Ipah.
Editor: Umaya Khusniah