PPDB di Kota Cirebon Diduga Curang, Oknum Pejabat Masukkan Anak lewat Jalur SKTM
Hera merasa miris melihat proses PPDB di Kota Cirebon seperti itu. Orang tua melakukan berbagai kecurangan demi anaknya masuk ke sekolah favorit. Dia merasa kasihan terhadap anak-anak yang menjadi korban kecurangan yang dilakukan orang tuanya.
"Anak yang sudah masuk tidak bisa disalahkan karena mereka korban. Yang kita salahkan dan sayangkan orang tua kenapa mau mendaftarkan anaknya lewat jalur tidak semestinya. Sudah begitu, ada oknum pejabat yang membiarkan dan malah ikut menjadi pelaku kecurangan itu," tutur dia.
Hera mengatakan, selain melakukan kecurangan melalui jalur tidak semestinya, para orang tua siswa melakukan kecurangan dengan mengubah domisili hanya demi anaknya masuk sekolah favorit. Ketika dibuka jalur zonasi, orang tua berbondong-bondong mengubah domisili ke lokasi terdekat dengan sekolah favorit.
"Sistem zonasi itu bukanlah murid yang jauh dipaksa mendekat. Tapi pihak sekolah harus menyiasati. Jika zonasi tertentu murid masih kurang, zonasi diperlebar, bukan malah menumpuk dan membiarkan kecurangan dengan memalsukan domisili," ucap Hera.
Lantaran banyak kecurangan tertuma lewa jalur zonasi, Hera menilai sangat setuju diubah dengan sistem nilai evaluasi belajar tahap akhir nasional Ebtanas murni (NEM). Dia juga telah mengusulkan melalui anggota Komisi X DPR Dede Yusuf untuk mengubah sistem PPDB dari sonasi ke sistem NEM.
"Saya setuju sistemnya diubah dari sistem zonasi menjadi NEM seperti dulu. Karena sistem NEM ada transparansi nilai, sehingga tidak ada kecurangan di dalamnya," ujar dia.
Editor: Agus Warsudi