Potret Kemiskinan di Indramayu, Tukang Becak Ini Nafkahi Keluarga dengan Penghasilan Rp20.000 per Hari
"Selama ini rumah saya belum dipasang listrik, karena saya belum ada biaya untuk memasangnya. Ini juga beberapa lampu dapat nyalur dari rumah saudara saya," tutur Nurudin.
Katirah (38), istri Nurudin, mengatakan, dia bersama Nurudin sudah sekitar 30 tahun tinggal di rumah dengan kondisi seperti itu dan serba kekurangan. "Dengan penghasilan suami saya sebagai tukang becak memang jauh dari kata cukup. Jika tidak ada duit terpaksa harus pinjam ke saudara ataupun tetangga. Sekarang juga hutang saya sudah banyak," kata Katirah.
Katirah menyampaikan, saat ini dirinya telah memiliki empat orang anak, paling kecil berusia 5 tahun. "Sebetulnya saya sudah memiliki enam anak. Namun yang dua meninggal, jadi anak saya sekarang ada empat. Dua anak saya tinggal bersama saya di rumah ini, sedangkan yang dua lagi tinggal bersama saudara saya," ujarnya.
Sementara itu, Saripin (51), kepala dusun mengatakan, sejauh ini pihak pemerintah desa sudah mengupayakan berbagai macam bantuan untuk keluarga Nurudin, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), pengadaan toilet, termasuk rutilahu dari pemerintah desa. Semua bantuan-bantuan itu keluarga Nurudin dapat.
"Namun, ketika mendapat rutilahu dari pemerintah pusat Nurudin menolak dengan alasan untuk biaya penanggulangannya tidak ada, di antaranya biaya tukang dan konsumsinya," kata Saripin saat mendampingi MNC Portal berkunjung ke rumah keluarga Nurudin.
Saripin menyatakan, tak hanya itu, saat mendapatkan program pemasangan listrik murah dari pemerintah desa, Nurudin pun kembali menolak, karena harus mengeluarkan biaya pemasangan Rp400.000.
"Penolakan bantuan listrik murah karena harus mengeluarkan biaya sebesar Rp400.000. Lantaran ada penolakan dari yang bersangkutan (Nurudin), sampai sekarang keluarga Nurudin belum mendapat bantuan rutilahu dari pusat dan listrik murah dari desa. Alasannya, memang karena ekonomi untuk biayai lain-lainnya," ujar Saripin.
Editor: Agus Warsudi