Pertama dan Satu-satunya di Indonesia, SMK Jurusan Kopi di Sumedang

Melalui pilot project sekolah kopi ini, Darmin menargetkan mulai awal tahun 2019 akan memperbanyak SMK yang memiliki jurusan kopi, minimal ada satu sekolah di tiap Kota. "Jadi ini merupakan upaya kami mempersiapkan percontohan untuk diperbanyak di tahun depan. Anggaran sudah disiapkan di APBN dan diterapkan di seluruh Indonesia," kata Darmin.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil pun sepakat bahwa program keahlian di SMK harus relevan dengan perkembangan saat ini. “Saya setuju SMK harus relevan dengan ekonomi baru. Sekarang lagi tren di seluruh dunia tentang ekonomi kopi," kata Kang Emil, sapaan akrabnya.
Menurutnya, Jabar sebagai daerah penghasil kopi terbaik di dunia harus juga memiliki SDM handal bidang industri kopi. Dia pun menargetkan akan menerapkan SMK jurusan kopi ini di seluruh Jabar.
"Masa Jabar tidak melahirkan lulusan-lulusan yang ahli tentang industri kopi. Jadi saya dukung dan akan masif kan lagi di seluruh Jabar akan program ini," ucapnya.
Emil menuturkan, berbagai upaya dalam mempersiapkan Jabar menjadi produsen kopi terbesar di dunia sudah dilakukan sejak tahun 2014. Salah satu di antaranya dengan membagikan 10 juta benih kopi unggulan bersertifikat kepada petani. Selain itu juga mendistribusikan satu juta pohon kopi ke 61 kelompok tani di enam Kabupaten. Di tahun 2015 dan 2016 telah disalurkan pula 4 juta benih kopi serta 5 juta benih di tahun 2017.
"Lima tahun ke depan yaitu 2018-2023, kami berencana akan kembali mendistribusikan 23,5 juta kopi untuk disebarkan ke seluruh Jabar," tutur Emil.
Editor: Donald Karouw