Perebutan Tahta Keraton Kasepuhan Cirebon, Keluarga Besar Kesultanan Tolak Raharjo Djali
Elang Tomy menyatakan, keluarga besar kasultanan Cirebon meminta pemerintah, baik pusat, provinsi maupun pemerintah daerah, turut memediasi polemik ini demi pelurusan sejarah dan diabsahkan semua pihak.
Disinggung siapa figur yang berhak memimpin Keraton Kasepuhan Cirebon, Elang Tomy menyatakan, perlu dilakukan pemetaan kembali sejarah dan keturunan atau trah asli Sunan Gunung Jati.
Diketahui, kisruh perebutan tahta sultan Keraton Kasepuhan berawal sepeninggal Sultan Sepuh IV Pangeran Arif Natadiningrat yang kemudian digantikan putra mahkota Pangeran Luqman Zulkaedin.
Namun sejumlah protes dari abdi dalem dan pembesar keraton terus bergulir. Mereka menganggap Sultan Kasepuhan Cirebon saat ini, Luqman Zulkaedin bukan keturunan sah dan trah dzuriah Sunan Gunung Jati.
Sebelum Raharjo Djali menobatkan dirinya sebagai Sultan Kasepuhan Cirebon, sejumlah orang mengatasnamakan diri Djuriah Sunan Gunung Jati menyerbu keraton pada Selasa (17/8/2021). Lebih dari seratus orang menyegel dan menggembok gerbang keraton tersebut.
Akibatnya aktivitas di sekitar keraton sempat lumpuh. Massa yang sebagian besar mengenakan baju pangsi hitam-hitam seperti pendekar itu merangsek masuk menuju bangunan utama keraton dengan memanjat pagar. Mereka bermaksud menduduki Keraton Kasepuhan yang saat ini sedang berpolemik.
Editor: Agus Warsudi