Pengasuh Ponpes di Rancabango Garut Akui Belasan Santri Terlibat Penganiayaan
"Para santri masih muda sehingga mungkin kesal dan emosi. Namun sebagai pengawas kami memiliki keterbatasan, namanya manusia," tutur Muadir Muallimin Ponpes Persis 99 Rancabango.
Tindakan pencurian yang diduga dilakukan korban, kata Luthfi Lukman Hakim, bukan hanya sekali, melainkan beberapa kali. Selain HP, korban AH, disebut-sebut juga diduga mencuri jam tangan milik santri lain di asrama.
"Barang bukti ada, saksi ada. Tapi korban tetep bersikeras tidak mencuri, hingga pada akhirnya semua ke-16 santri kami tersulut emosinya," ucap Luthfi Lukman Hakim.
Pihak pesantren, ujar, telah berupaya untuk fokus merukunkan kembali para santri itu dengan korban. Terkait surat yang dilayangkan kepada pihak orang tua korban, Luthfi Lukman Hakim menjelaskan bahwa itu merupakan undangan bagi orang tua AH, karena korban menjadi jarang masuk sekolah.
"Kami ingin tahu perkembangan kesehatannya seperti apa. Kami sama sekali tidak memiliki maksud apa pun kepada korban atau keluarganya. Korban tetap lah anak didik kami, begitu juga dengan 16 santri yang melakukan penganiayaan terhadapnya, juga anak didik kami," ujarnya.
Mengenai gendang telinga bagian kiri korban yang pecah, Luthfi menjelaskan bahwa menurut ahli medis akan kembali normal dalam waktu tiga hingga empat bulan. "Soal yang air comberan itu, itu hoax. Lebih baik jangan disebarluaskan," tutur Luthfi Lukman Hakim.