Pakar ITB: Belajar dari Perang Ukraina-Rusia, Kemandirian Industri Alutsista Urgen bagi Indonesia
“Saya kira kalau semuanya memang berniat baik dan punya keteguhan hati untuk melakukannya dalam jangka waktu panjang, saya kira tidak susah buat yang seperti itu. Saya bilang teknologi itu paling mudah yang susah itu people sama prosesnya. Ngurusin manusia sama bagaimana kita membangun kerangka untuk bisa memproduksi dengan baik,” imbuh dia.
Sementara itu, Direktur Teknologi dan Industri Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Marsekal Pertama TNI Dedy Laksmono mengatakan, saat ini Kemenhan terus mendorong riset agar mampu memproduksi alutsista. Kemenhan juga memulai dari hal kecil, seperti membuat suku cadang sendiri dari beberapa alutsista yang sudah tidak diproduksi lagi.
Kemenhan juga melakukan kerja sama dan transfer lisensi untuk beberapa alutsista yang dibeli dari luar negeri. Seperti halnya pesawat tempur Rafale dan kapal antiranjau.
“Untuk pesawat Rafale ada kerja sama offset. Jadi kita beli 42 pesawat. Nah dari situ ada beberapa teknologi yang kita dapat dari mereka, termasuk kemampuan pemeliharaan pesawat itu sendiri,” kata Direktur Teknologi dan Industri Kemenhan.
Untuk diketahui, seminar Industri Pertahanan 2023 digelar oleh Pusat Teknologi Pertahanan dan Keamanan Institut Teknologi Bandung (Pustekhan ITB) sebagai salah satu pusat penelitian unggulan di ITB yang berfokus pada kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi maupun penyusunan kebijakan di bidang pertahanan dan keamanan.
Seminar Industri Pertahanan Nasional 2023 mengangkat tema “Membangun Kemandirian Industri Pertahanan Nasional melalui Optimalisasi Kegiatan Inovasi, Riset, Peningkatan TKDN, dan Pengembangan berbasis Intangible Assets”. Seminar ini diharapkan mendorong inovasi teknologi dan daya saing industri pertahanan nasional.
Editor: Agus Warsudi