Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Lokatmala Nite, Gerakan Kebudayaan dan Ekspresi Pemenuhan Ruang Batin Publik Cianjur
Advertisement . Scroll to see content

Optimisme Seni Budaya Semakin Maju lewat Inovasi Seni Tradisi Lokatmala Foundation

Sabtu, 27 Agustus 2022 - 13:07:00 WIB
Optimisme Seni Budaya Semakin Maju lewat Inovasi Seni Tradisi Lokatmala Foundation
Pimpinan Ponpes Al-Mizan Jatiwangi Majalengka KH Maman Imanulhaq memberikan orasi budaya pada Lokatmala Nite di Cianjur. (FOTO: ISTIMEWA)
Advertisement . Scroll to see content

Wina berharap kehadiran Lokatmala bisa memantik kreatifitas baru dan menularkannya kepada yang lain. Menjadi virus positif untuk tumbuhnya jejaring kekuatan baru dalam derap langkah kebudayaan yang kadang terseok karena nihilnya keberpihakan kita pada jati diri bangsa yang sesungguhnya.

“Saatnya kita membangun karya. Karya yang bisa kita kerjakan meskipun dalam ritmis kecil dan temaram lilin kemasygulan. Kita terus bekerja untuk kebudayaan dengan jalan lurus kesungguhan. Malam ini kami mulai dengan Bismillah, dan doakan kami mencapainya!” ucap Wina.

Sementara itu, Pegiat Budaya Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Dhika mengatakan, Cianjur tidak hanya dikenal akan tanah subur, makmur, alam indah, dan masyarakatnya yang ramah, tetapi juga daerah dengan keanekaragaman seni dan budaya.

“Betapa tidak, beragam jenis kesenian, ritus, adat, permainan, serta objek pemajuan kebudayaan lainnya dapat kita temukan di Kabupaten Cianjur ini,” kata Dhika yang juga Direktur Program Lokatmala Foundation tersebut.

Maka tidaklah mengherankan, ujar Dhika, ketika Cianjur dinobatkan sebagai pusat kebudayaan di Priangan saat Cianjur menjadi Ibu Kota Kresidenan Priangan tahun 1819-1864.

“Saat itu banyak para pujangga yang sengaja datang ke Cianjur untuk mempelajari kebudayaan kita, untuk kemudian ditransmisikan kembali dari generasi ke generasi selanjutnya di luar sana,” ujar alumnus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada itu.

Sayang, tutur Dhika, mungkin karena terlalu terbuai hingga abai pada nasib budaya kita, kabar kesenian khas Cianjur saat ini cenderung ‘pikamelangeun’ (menghawatirkan, red).
 
“Ganjar Kurnia pernah menulis sebuah sajak yang kemudian disanggi oleh ubun kubarsah. Melang sebuah tembang yang tak hanya tembang, tetapi juga sarat akan muatan nilai dan kondisi faktual terkait kebudayaan kita hari ini,” tutur Dhika yang dalam kegiatan Lokatmala Nite itu membawakan sejumlah puisi dan syair mamaos.
 
Dhika mengatakan, kebudayaan adalah DNA bangsa ini, dan kekuatan budaya merupakan sebuah modal utama dalam membangun sebuah bangsa. 
 
Apalah artinya renda-renda kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan. Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” ucap Dhika menyitir puisi Paman Doblang karya WS Rendra.

Editor: Agus Warsudi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut