Observatorium Bosscha: Sejarah, Harga Tiket dan Jam Operasional
Karel Bosscha bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Dalam proses pembangunan observatorium ini, Bosscha mendapatkan bantuan dari pemilik perusahaan susu “Baroe Adjak” Ursone Bersaudara berupa tanah seluas 6 hektare di daerah Lembang.
1. Lokasinya tepat pada celah perbintangan untuk melihat gugus galaksi sisi selatan.
2. Topografi di wilayah Lembang berada pada posisi yang cukup aman.
3. Di Bandung akan dibangun sebuah perguruan tinggi yang mempunyai Jurusan Astronomi, sehingga dengan adanya Observatorium di Lembang akan membantu proses pembelajaran jurusan Astronomi tersebut.
Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium. Tempat ini diresmikan pada 1 Januari 1923.
Kemudian, pada 17 Oktober 1951, NISV secara resmi menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah Republik Indonesia selanjutnya dijadikan bagian dari FIPIA Universitas Indonesia.