Masjid Al-Syuro, Jejak Perjuangan Rakyat Garut Melawan Penjajah Belanda
Ciri utama yang menunjukan bangunan tersebut adalah masjid hanyalah kubah dan menara.Pposisi menara dan pintu utama telah menjadikan bagian ini tampil sinergi dan tampak luas karena berdiri di atas lahan seluas 75x30 meter persegi.
Saat masuk ke dalam, tampak seperti ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu sebelah utara dan selatan atau timur yang terletak di antara ruang naik tangga.
Pada 1930-an, lokasi di sekitar masjid menjadi lokasi latihan perang. Menara masjid digunakan untuk memantau pergerakan musuh yang hendak menyerang.
Setiap hari, Masjid Al-Syuro tak pernah sepi dari kegiatan keagamaan yang dilakukan para santri dan masyarakat setempat, meskipun di masa pandemi. Namun kegiatan di masjid itu kini kurang ramai lantaran para santri banyak yang dipulangkan ke daerah masing-masing.
Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Syuro Nasrul Fuad mengatakan, keberadaan masjid ini tidak terpisahkan dari Syarikat Islam dan tokoh nasional Haji Oemar Sidik (HOS) Cokroaminoto.
Kala itu, kata Nasrul, para ulama dan masyarakat Kampung Cipari antiterhadap penjajah. Akhirnya pergerakan dan perlawanan warga Cipari ini terdengar oleh HOS Cokroaminoto yang juga melawan penjajah. HOS Cokroaminoto kemudian membentuk syarikat Islam di Kampung Cipari.
"Masjid ini dikelola oleh keluarga atau keturunan dari tokoh ulama Cipari yang turut andil dalam perjuangan melawan penjajah juga turut serta dalam membesarkan Pesantren Cipari," kata Nasrul, Jumat (16/4/2021).
Editor: Agus Warsudi