Ledakan Kasus Covid-19 di Jabar Mencemaskan, Keterisian RS Rujukan Lampaui Standar WHO
"Rumah sakit di Bandung Raya kami sudah mengurangi yang untuk ketersediaan tempat tidur yang hijau. Artinya, yang gejala ringan atau tanpa gejala itu bisa diisolasi mandiri atau diisolasi di tempat yang sudah disiapkan oleh pemerintah, rumah sakit hanya merawat yang sedang dan berat saja," kata Basalama Gatot.
Direktur RS Borromeus Bandung Chandra Mulyono mengatakan, tempat tidur yang dapat digunakan masih tersedia. Namun, jika pasien terus datang, pihaknya khawatir terjadi over capacity.
"Kami dengan 124 tidur masih ada ruang untuk ditambah tapi kalau terus meningkat ini berisiko juga kami harus membuka lagi sampai 149 tempat tidur," kata Chandra.
Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Jabar Daud Ahmad mengakui bahwa kasus Covid-19 di Jabar terus meningkat. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya akan memperkuat kapasitas pusat isolasi, rumah sakit darurat, dan rumah sakit rujukan.
"Jabar memiliki tempat isolasi di BPSDM dan Secapa AD. Jumlah bed di BPSDM dan Secapa AD total ada 350 bed. Dinkes Jabar terus melakukan komunikasi dengan pihak Kesdam (Kesehatan Kodam) untuk menambah bed di Secapa AD sebagai langkah antisipasi lonjakan kasus," jelasnya.
Bahkan, kata Daud, pihaknya juga telah mempersiapkan Lapangan Tembak Gunung Bohong sebagai tempat isolasi, termasuk mengerahkan rumah sakit baru di Soreang yang dapat menampung 100 pasien Covid-19.
"Terkait rumah sakit darurat, Jabar masih memiliki rumah sakit darurat di Bogor dan Bekasi yang sejauh ini belum beroperasi. Rumah sakit darurat ini dapat dikerahkah jika suatu saat terjadi kenaikan kasus yang signifikan," kata Daud.
Editor: Agus Warsudi