Kronologi Peti Jenazah Pasien Covid-19 di Cirebon Dibuka Paksa, Kades: Keluarga Emosi
“Mereka merasa ada yang aneh ini. Akhirnya karena sudah emosi, keluarga juga membuka peti tersebut. Ternyata dilihat masih memakai pampers dan baju. Jadi, jenazah dianggap keluarga itu belum suci, belum sempurna,” katanya.
Dari kondisi jenazah itu, keluarga dan warga kecewa. Mereka meyakini jenazah yang meninggal setelah menjalani perawatan selama empat hari di RSD Gunung Jati belum disucikan dan dimandikan oleh petugas pemulasaraan jenazah Covid-19 Kabupaten Cirebon dan pihak RSD Gunung Jati.
Meski mengundang risiko penularan yang sangat tinggi, keluarga akhirnya memutuskan untuk memandikan dan menguburkan jenazah sesuai dengan Syariat Islam.
“Mereka emosi dan akhirnya memaksa untuk menyucikan jenazah di rumah,” kata Nuril Anwar.
Selain itu juga, sampai dengan saat ini, pihak keluarga dan perangkat Desa Astana Gunung Jati belum menerima kabar perihal akan dilakukan tes swab massal terhadap keluarga ataupun warga yang berkontak langsung dengan jenazah terpapar Covid-19.
Sementara Direktur RSD Gunung Jati, Ismail Jamaludin sebelumnya mengaku pihak rumah sakit sudah melakukan koordinasi dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, untuk proses pemakaman. Sebab, pihak rumah sakit hanya bertugas mengantarkan jenazah dan tugas penguburan sesuai protokol kesehatan diserahkan kepada aparat desa atau gugus tugas setempat.
“Kami sudah melalukan pemulasaran sesuai dengan protokol kesehatan, apalagi dalam kondisi tertentu diperbolehkan,” ujarnya.
Editor: Maria Christina