Komisi IX DPR Nilai Kasus Mutilasi Mahasiswa di Jogja Jadi Contoh Perlunya RUU Ketahanan Keluarga
Karena itu, tutur Netty, Bondage and Discipline, Dominance, Submission, Sadism and Masochism (BDSM) yang selama ini menjadi satu diksi sangat jauh dari telinga, ternyata praktiknya sudah ada di depan mata dan di tengah masyarakat.
"Saya teringat ketika kita bicara tentang keluarga adalah institusi sosial terkecil di masyarakat yang sangat menentukan masa depan bangsa seharusnya kita mulai kembali memperkokoh, memperkuat ketahanan keluarga kita. Karena di keluarga itulah kita ditanamkan nilai kebaikan, termasuk juga nilai agama," tutur Netty.
Beragama di Indonesia, kata Netty, didukung oleh nilai-nilai Pancasila dengan beragama agama yang menjadi pilihan. Nilai agama itu lah yang membuat orang bisa mengatakan tidak terhadap setiap tindakan kekerasan.
"Kita bisa mengatakan tidak kepada setiap tindakan yang merugikan diri dan orang lain. Dengan agama pula lah kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Itu semua diawali dari dalam pendidikan keluarga," ucap dia.
Netty berharap berharap, undang-undang dan regulasi mampu memotret apa yang selama ini menjadi keresahan dan kekhawatiran masyarakat, khususnya orang tua dalam melindungi anak mereka dari seperti yang saya sebutkan sebagai BDSM.